Proses Menjadi dalam Novel Tarian Setan Karya Saddam Hussein dan Siddhartha Karya Hermann Hesse

Sariban Sariban(1*)

(1) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Islam Darul Ulum Jalan Airlangga, Sukodadi, Lamongan
(*) Corresponding Author

Abstract


Artikel ini bertujuan menjelaskan pemikiran filsafat dalam novel Tarian Setan dan Siddharta (2007). Kumpulan pemikiran filsafat yang dibangun adalah hasrat karakter sebagai representasi manusia sehingga semua argumen yang dibangun berakar pada latar belakang kemunculan hasrat, proses hasrat, dan hasil hasrat. Berdasarkan pemikiran filsafat, bisa disimpulkan bahwa Hasqil dan Siddharta memiliki hasrat menjadi karena pengaruh imitasi, mimetik. Dalam proses menjadi yang disebabkan oleh mimetik, bisa diidentifikasi bahwa Hasqil lebih memiliki hasrat fisik, agresif, sementara Siddharta memiliki hasrat psikologis, reseptif. Sebagai subjek yang memiliki hasrat menjadi, Hasqil dan Siddharta bisa dianggap sebagai korban karena keduanya tidak pernah bebas dalam menentukan hasratnya sendiri. Individu adalah korban lingkungannya. Ironi tentang keterjebakan manusia pada hasrat libidinal telah didemonstrasikan oleh kedua karakter tersebut. Hasqil telah terjebak dalam hasrat libidinal sehingga menjadi orang gagal, sementara Siddharta secara sengaja menjebak dirinya sendiri untuk proses kesadaran menjadi karena prinsip bahwa hidup adalah tindakan. Hasrat kematian selalu menjadi bagian dari proses menjadi untuk tiap individu. Kematian adalah sebuah pelarian dari ketidakbahagiaan dan harapan untuk sekaligus meraih kebahagiaan.

Abstract:
This paper is aimed to explain the philosophical way of thinking in the novels Tarian Setan and Siddharta (2007). The collection of a way of thinking built is the character’s desire as a human representation so that all arguments built are rooted in the background of desire emergence, desire process, and desire result. Based on the philosophical way of thinking, it can be concluded that Hasqil and Siddharta have a desire of being for the influence of imitation, mimetic. In the process of being caused by the mimetic, it can be identified that Hasqil has a more physical desire, aggressive, whereas Siddharta has a psychological desire, receptive. As a subject having a desire of being, Hasqil and Siddharta can be regarded as victims since both have never been free in deciding their own desire. Individuals are their environment’s victims. The irony of human entrapment towards libidinal desire has been demonstrated by the two characters. Hasqil has been trapped in the libidinal desire that he becomes a failed person, whereas Siddharta has intentionally trapped himself for the process of consciousness of being because of a principle that life is action. The desire of death has always become a part of the process of being for every individual. Death is an escape from unhappiness and a hope to get a hold of happiness all together.

Keywords: process of being, desire, Tarian Setan, Siddharta

Keywords


proses menjadi; hasrat; Tarian Setan; Siddharta

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24257/atavisme.v12i1.156.37-45

Article metrics

Abstract views : 1069 | views : 612

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

   

ATAVISME is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Visit Number:

View My Stats