Kode-Kode Budaya Dalam Sastra Lisan Biak Papua

Sriyono Sriyono(1*), Siswanto Siswanto(2), Ummu Fatimah Ria Lestari(3)

(1) Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, Jalan Yoka, Waena, Distrik Heram, Jayapura 99358
(2) Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, Jalan Yoka, Waena, Distrik Heram, Jayapura 99358
(3) Balai Bahasa Provinsi Papua dan Papua Barat, Jalan Yoka, Waena, Distrik Heram, Jayapura 99358
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kode-kode budaya yang terdapat dalam sastra lisan Biak di Papua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktur dan semiotik Umberto Eco. Sumber data penelitian ini adalah sastra lisan Biak yang diambil di Kampung Opiaref, Distrik Biak Timur. Melalui analisis semiotik sistem sintaktik diperoleh kode­‐kode yang signifikan antara lain: latar darat dan laut, tokoh Manarmakeri dan Marmar, serta mitos sebagai penanda hak ulayat. Dari analisis semiotik sistem semantik diperoleh kode­‐kode yang signifikan seperti: nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilokal, eksistensi anak laki­‐laki dalam kekerabatan patrilineal, ararem, abeyap srendi, munara, dan totem ikan sako. Makna dari kode­‐kode budaya tersebut mengomunikasikan tentang proyeksi berfikir mereka yang bermuara pada eksistensi dan gengsi keret.

Abstract:
This research aims to describe the cultural codes in oral literature of Biak in Papua. It is a descriptive qualitative research with structure and Umberto Eco’s semiotic approach. The main data of this research are the oral literature of Biak, exactly from Opiaref Village, East Biak District. Based on the semiotic analysis of syntactic system, there are some significant codes such as the setting of land and sea, the characters of Manarmakeri and Marmar, and myth as a claim of land possession. Based on the semiotic analysis of semantic system, there are some significant codes such as nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilocal custom, the existence of a man in patrilineal clan, ararem, abeyap srendi, munara, and totem of sako fish. The significance of those cultural codes communicate their way of thinking, emphasizes on clan existence and prestige.

Key Words: oral literature; cultural codes; meaning

Keywords


sastra lisan; kode budaya; makna

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.24257/atavisme.v18i1.34.75-89

Article metrics

Abstract views : 1088 | views : 1189

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




ATAVISME INDEXED BY:

   

ATAVISME is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License

Visit Number:

View My Stats